RSS

“Bapak, aku ingin Sekolah”

20 Dec

Semoga dapatmemberikan tambahan energi positif hari ini ,

setidaknya menambah perhatian kita pada masalah sosial disekitar
kita. (Maaf bagi yg tidak berkenan)


Segelas air putih terletak di meja kayu. Lelaki itu mengangkatnya
untuk terakhir kali. Diteguk habis. Sejak kemarin siang belum ada
satu butir nasipun yang singgah di perutnya. Hanya air putih.
Itupun hanya air sumur di belakang. Kata orang air itu kotor.
Tidak layak untuk diminum.

Tapi apakah orang masih bisa berpikir kesehatan, higienis atau
tidak, ketika tidak ada lagi pilihan? Tadi pagi dia hanya memanasi
air itu dengan alat pemanas kecil yang diperolehnya beberapa waktu
lalu dari seseorang.

Dipandangnya gelas kosong. Baginya hanya minum air masih bisa
bertahan. Bagaimana dengan dua anak dan istrinya? Dihela nafas
panjang. Sejak kemarin persediaan beras sudah habis. Mau hutang
pada tetangga sudah tidak mungkin lagi. Sudah banyak tetangga yang
dimintai tolong untuk meminjaminya uang atau beras. Satupun belum
ada yang dia bayar.

Dia malu bila harus datang lagi ke salah satu dari mereka untuk
meminjam uang atau beras.

Lelaki itu berjalan keluar. Berdiri diambang pintu rumah
kontrakkan. Sebuah pintu yang sempit dari sebuah kamar ukuran 3X4.
Inilah rumahnya. Satu dari sekian deretan rumah petak. Dilihatnya
beberapa anak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Maria, anaknya
yang tertua masih duduk di kelas II SD. Dia baru selesai mandi di
kamar mandi umum

.
Sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah juga. Lelaki itu
menghela nafas kembali. Apakah Maria akan bolos sekolah lagi?. Keluh hatinya.

Kemarin Maria sudah bolos 3 hari. Bukan karena sakit atau malas,
melainkan tidak ada uang saku untuk naik angkot. Sekali jalan dia
harus bayar Rp 1000. Kalau pergi pulang sudah Rp 2000. Darimana dia
dapat uang Rp 2000?

Sekolah Maria cukup jauh. Dulu dia sengaja menyekolahkan Maria di
sekolah ini, sebab dia ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu.

Ketika masih bekerja semua bisa diatasi. Setelah tidak bekerja dia
sudah dua kali memohon keringanan dari kepala sekolah, sekarang
Maria tinggal membayar separo dari uang sekolahnya semula. Namun
ini masih sangat terasa berat sekali. Sekarang sudah 2 bulan Maria
belum membayar uang sekolah.

Pernah dia meminta bantuan pada seseorang ternyata tidak diberi,
melainkan mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan hati. Dengan
angkuh dia mengatakan kalau memang tidak mempunyai uang mengapa
disekolahkan disana? Siapakah yang tahu bahwa dia akan ter PHK?

Siapakah yang tidak ingin menyekolahkan anaknya di tempat ya.
Sekali lagi lelaki itu menghembuskan nafas kesal. Dia kesal pada diri sendiri.

Mengapa tidak bisa menemukan pekerjaan? Sudah hampir 6 bulan dia
menganggur. Semula dia bekerja di sebuah perusahaan yang cukup
baik. Tapi karena pemimpinnya korupsi, maka perusahaan menjadi
bangkrut. Semua karyawan di PHK tanpa pesangon. Mau menuntut pada
pemilik perusahaan tampaknya tidak mungkin sebab dia sekarang masuk
dalam penjara. Hartanya disita. Dia dituduh menggelapkan uang
milik seseorang dan terjerat hutang di sebuah bank.
Selama 6 bulan ini sudah banyak kertas lamaran dibuat. Sudah banyak

perusahaan dimasukinya, tapi semua jawabannya sama. Tidak ada
lowongan atau yang lebih agak halus tunggu panggilan. Satu demi

satu apa yang dimilikinya dari hasil bekerja sekian tahun telah
dijualnya. Rumah dari kontrakan satu rumah menjadi sebuah kamar.
Makan pun kini sudah semakin susah. Setiap hari hanya berpikir
kepada siapa dia akan hutang lagi?

Dilihatnya matahari yang cerah menyinari genting yang berjajar
rapat. Apakah kalau dia pulang ke daerah asal semua akan beres?
Apakah disana ada pekerjaan? Bukankah dia sampai merantau ke kota
sebab di daerahnya tidak ada lagi yang bisa dijadikan peganggan
untuk hidup? Orang tuanya hanya mewariskan sepetak tanah gersang
yang sangat minim hasilnya. Di desa dia akan semakin tidak berdaya.
Belum lagi pendidikan anak-anaknya. Pasti disana tidak akan terjamin.

Lelaki itu terus termenung di depan pintu. Mau kemana lagi hari ini?
Apakah yang bisa dimakan hari ini? Dia melihat Maria sudah
berpakaian seragam. Hatinya pedih kalau melihat Maria dengan
pakaian seragam dan siap berangkat sekolah. Lebih baik kamu tidak
masuk saja hari ini. Kata lelaki itu sambil menatap Maria. Aku malu
diolok-olok temanku kalau aku bolos sekolah. Maria mulai menangis
minta sekolah. Hati lelaki itu bagai diremas. Hancur luluh. Semua
kata tercekat ditenggorokan.

Maria semakin keras menangis. Dia ngotot mau sekolah sebab malu
diejek teman-teman di kampung dan di sekolah. Istrinya datang dari
sumur. Dia marah ketika mendengar Maria menangis. Maria yang sudah
sedih hati semakin sedih. Tangisnya semakin keras. Istrinya merasa
tidak didengarkan maka dia mulai berteriak-teriak agar Maria
berhenti menangis. Lelaki itu hanya mampu terdiam di ambang pintu.
Teriakan istrinya dan tangis Maria seperti dua besi yang menjepit
kepalanya sehingga mau pecah.

Semua tidak salah. Istrinya pun jengkel akan situasi hidup yang
membuat tegang. Maria yang belum faham dengan kesulitan orang
tuanya hanya mampu menangis.

Kamar menjadi ribut. Istrinya mulai mengomel panjang lebar.
Suaranya keras menusuk jiwa. Lelaki itu hanya membisu. Di dekatinya
Maria dan digendong keluar.

Dia tidak ingin anaknya semakin disakiti dengan perkataan istrinya.
Permintaan Maria sangat wajar. Dia ingin berangkat sekolah. Dia
tidak meminta apa-apa selain sekolah. Maria dan adiknya memang anak
yang baik. Mereka tidak pernah menuntut. Makan hanya dengan nasi
dan garampun mereka diam saja, meski banyak temannya makan nasi
dengan lauk dan sayur. Mereka jarang sekali meminta jajan. Mereka
seolah faham dengan aneka kesulitan yang dialami oleh orang tuanya.
Kini dia menangis sebab sudah tidak tahan diolok-olok temannya
sebagai pemalas yang suka membolos. Namun dia tidak mungkin
menerangkan pada Maria tentang kesulitan hidupnya.

Maria terus menangis dalam gendongan. Dia meronta-ronta ingin turun
dan berangkat ke sekolah. Lelaki itu berjalan ke tetangga siapa
tahu masih ada orang yang berbaik hati mau memberi pinjaman uang Rp
2000 untuk ongkos angkot. Seorang tetangga akhirnya menyodorkan dua
lembar ribuan. Maka dengan segala bujuk rayu akhirnya Maria mau
diam dan bersiap ke sekolah. Namun dia belum makan. Di rumah hanya
ada air putih dari sumur. Apakah dia akan kuat belajar sampai siang
nanti? Ingin sekali lelaki itu berteriak untuk melepaskan beban di
hatinya. Dia bisa gila melihat semua ini setiap hari. Bukan dia
malas. Dia punya ijasah SMA. Dia sudah berusaha mencari pekerjaan
meski hanya kuli bangunan. Namun pada jaman seperti ini, sebuah
lowongan sudah dinanti sekian ratus pengangguran. Faktor usia dan
ijasah membuatnya selalu kalah bersaing. Lelaki itu melambaikan
tangan pada Maria yang berlari menuju jalan besar untuk mencegat
angkot. Lelaki itu berjalan gontai menuju rumahnya yang kecil.
Sayup-sayup dia mendengar seorang sedang membacakan berita di
radio. Dengan jelas sekali dia mendengar bahwa terdakwa penggelapan
uang negara sebesar 40 M dibebaskan. Ingin rasanya mengambil batu
dan melempar radio itu. Ini sepertinya sebuah penghinaan pada kaum
miskin. 40 M bukan uang yang sedikit. Dan mereka mengatasnamakan
rakyat menggunakan uang itu untuk memperkaya diri. Memang suara
kelaparan dan kegelisahan yang muncul dari dalam dirinya belum
menggema di masyarakat. Namun apakah dia diberi ruang dan
kesempatan untuk bersuara? Kalau toh sudah bersuara apakah akan
membuka hati para koruptor? Apakah ada rasa peduli dari mereka?.

Lelaki itu hanya salah satu dari jutaan masyarakat yang hidup jauh
dibawah garis kemiskinan. Dia hanya bagian sebuah masyarakat yang
sering dihina oleh sikap orang berkuasa yang dengan wewenang-wenang
menggunakan uang rakyat demi kepentingan pribadi. Lelaki itu
berjalan gontai. Perutnya sudah sangat lapar. Dia harus keluar
untuk mencari pekerjaan. Masihkah ada pintu terbuka untukku
sehingga aku bisa menyekolahkan anak-anakku? Siang semakin terik
membakar hati yang gersang…

Ketika kesusahan menerpanya, dia hanya bersabar dan ikhtiar..

Karena dia tahu Allah tidak akan menguji makhluknya melebihi

Kemampuannya…

Akhirnya dia berangkat dengan perut yang hanya di isi air putih

Berjalan kaki menuju pasar , mungkin disana ada kerjaan untuk angkat

/angkut brg orang yg berbelanja atau menurunkan dari mobil.

Dipasar sangat ramai, dia berjalan mencari apa saja yg mungkin bisa

Dikerjakan. Tapi dia melihat seorang nenek yg dengan susah payah berjalan membawa

Belanjaan meski hanya sayuran dan beberapa ikan, dia tergugah untuk menolongnya meski dia

Tahu dia berburu dengan waktu untuk mendapat kerjaan di pasar.

Nenek sangat senang ada orang yg perduli dengan dirinya, dia mengantarkan nenek ke

Tempat pangkalan bajai, tapi sebelumnya nenek itu menitipkan dompetnya karena takut jatuh

Ketika naik bajai…

baru setelah nenek itu naik bajai dan belanjaannya juga sudah ditaruh di dalam bajai,  

dia permisi untuk masuk ke dalam pasar lagi….begitu juga nenek berangkat dengan bajainya,

tapi alangkah terkejutnya ketika dia sampai dipasar ketika merogok saku celananya, ada dompet yang dititipkan si nenek tadi (karena waktu nenek nitip, dia simpan dulu dompetnya di saku celana, karena akan memasukan belanjaan nenek.begitupun nenek karena sudah tua lupa meminta kembali dompetnya. Dia hanya mengucapkan terima kasih.

Dia begitu bingung harus mencari kemana nenek tadi, dia buka dompet sinenek ternyata uangnya banyak sekali, yang mungkin selama 6 bulan ini dia belum pernah melihatnya,

Hatinya bergejolak karena memang butuh sekali uang untuk biaya hidup dan sekolah anaknya

Tapi keimanannya dan hati kecilnya mengatakan itu bukan miliknya dan harus dikembalikan. Untungnya di dompet si nenek terselip no.telp.HP dengan nama Anna Khairunisa, dia bingungakan telp ga punya uang sepeserpun.

Tapi untuk bisa mengembalikan dompet si nenek dia pikir pake aja dulu uang ribuan untuk telp, no tersebut siapa tahu anaknya atau saudaranya.no tersebut.

Akhirnya dia mencari wartel dan menelpon no tersebut. kebetulan nyambung dan diangkat oleh Anna, dia menceritakan kejadian tadi. Anna lalu memberikan alamat rumahnya yang berjarak hanya 3 kiloan  dari pasar tersebut. Tampa pikir panjang dia berjalan kaki menuju alamat tersebut kebetulan dia agak tahu daerah tersebut. Dia tidak mau naik angkot karena tidak punya uang dan tidak mau menggunakan uang si nenek tersebut.

Akhirnya dia sampai di rumah si nenek, dan bertemu dengan nenek yg tadi dipasar begitu juga dengan Ibu Anna. Dan alangkah terkejutnya , ternyata Ibu Anna itu Kepala sekolah Maria anaknya. Dia lalu menyerahkan dompetnya ke ibu Anna dan dia bilang maaf tadi dipakai 3 ribu untuk telpon Ibu. Ibu Anna bertanya kenapa lama sekali, padahal Cuma 3 kilo…? Dia bilang maklum bu jalan kaki… habis saya sudah tidak punya uang. Untuk ongkos naik angkot. Ya Allah … pak kenapa ga dipakai aja uang yg di dompet untuk naik angkot…, saya ga berani bu…

Ibu Anna bercerita bahwa ibunya itu ga mau dilarang pergi berbelanja ke pasar, karena sudah kebiasaan di kampung katanya…

Ibu Anna termenung … kayanya pernah saya bertemu bapak dimana ya…? dia bilang saya yang minta keringanan uang sekolah waktu itu bu…. Dan sampai saat ini saya masih belum punya pekerjaan, makanya tadi ke pasar mo cari kerjaan buruh angkut ..itupun kalau ada…

Ibu Anna sangat kasihan dan kagum…. Orang yang sangat butuh uang … tapi dengan ikhlas dan jujur mau mengembalikan yang bukan miliknya… akhirnya dia memutuskan untuk memberikan pekerjaan jadi penjaga sekolah di sekolahanya. Kebetulan penjaga sekolah yang lama sebulan lagi pensiun… dan Ibu Anna bilang Maria akan diusakan  dibebaskan dari bayar uang sekolah….

Dia sangat bersyukur … karena dengan kesabaran dan kejujuran, akhirnya membuahkan hasil yang baik. Ketika pulang dia diberikan  uang tanda terima kasih yang bisa untuk beli beras dan ongkos Maria sekolah. Dia sangat senang dan bersyukur pada Allah, karena mendapatkan anugrah/rizki ini. Maria terbayang tak akan membolos  lagi karena tak punya uang untuk ongkos,

Sampai di rumah dia memeluk istrinya karena sangat bahagia, istrinya bingung… jangan..jangan suami saya sudah setresss… karena tak seperti biasa-biasanya. Setelah diceritakan kajadian yang dialaminya. Mereka berdua sujud syukur karena mendapat rizki tsb.

Bagaimana dengan kita..kadang kita dapat rizki yg lebih besar dari itu…jarang sekali bersyukur dan mungkin tidak pernah sujud syukur…untuk itu sykuri apa yang kita punya… jangan banyak mengeluh… masih banyak orang lebih dari kita…

Jika Anda tergerak dengan tulisan diatas, kirimkan hal ini kepada
kerabat kerabat Anda, dan tidak ada salahnya juga kita mau menengok
dan memberikan bantuan kepada orang-orang disekeliling kita yang
mungkin mempunyai pengalaman yang hampir mirip dengan tulisan diatas ,jangan sampai kita membuang bua

ng makanan karena berlebihan, tapi disekitar kita ada yang kelaparan….


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: