RSS

Qurban Terbaik

18 Apr

Sekedar mengingatkan,……………..

….
Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat
pintu
mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku
menutupnya
dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual
yang hanya
bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali
anak-anak yang
ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul
Adha
nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang
pengorbanan Nabi Allah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan

yang
akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing
coklat
bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di
sekitarnya.
” Berapa harga kambing yang itu pak ?” ujarku menunjuk kambing coklat
tersebut.
” Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah
tidak
kurang” kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap
melayani calon
pembeli lainnya.
” Tidak bisa turun pak?” kataku mencoba bernegosiasi.
” Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal” si pedagang
bertahan.
” Satu juta lima ratus ribu ya?” aku melakukan penawaran pertama
” Maaf pak, masih jauh.” ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah
berharap si
pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.
” Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?” kataku
” Masih belum nutup pak ” ujarnya tetap cuek
” Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?” ujarku
berdalih
mencoba melakukan penawaran termurah.
” Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke
sini
sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya
bukan
rumput” kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga
selain
yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing
lainnya
yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus

ribu.
Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil.
Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.
” Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?” kataku kemudian
” Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah”
katanya

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan
harga
kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian “korpri” yang ia kenakan
lusuh,
tetapi wajahnya masih terlihat segar.
” Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?” katanya kagum
” Dua juta tidak kurang tidak lebih kek.” kata si pedagang setengah malas
menjawab
setelah melihat penampilan si kakek.
” Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?” kata si kakek dalam
bahasa
Purwokertoan
” bisa di tawar-kan ya mas ?” lanjutnya mencoba negosiasi juga.
” Cari kambing yang lain aja kek. ” si pedagang terlihat semakin malas
meladeni.
” Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku
mau yang
terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)

Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas.” katanya tetap
bersemangat
seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca

yang
juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan
sembilan
lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.
” Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya
mas?”
lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak
tadi.
Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang
disodorkan si
kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.
” Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah” si pedagang mengeluarkan
selembar lima
puluh ribuan
” Ora ono ongkos kirime tho.?” (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek
seakan tahu
uang yang diberikannya berlebih
” Dua juta sudah termasuk ongkos kirim” si pedagang yg cukup jujur
memberikan lima
puluh ribu ke kakek
” mau di antar ke mana mbah?” (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi
mbah)
” Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa
ditabung
lagi)” kata si kakek sambil menerimanya
” tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu
ya), sak
sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman,
takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda
Pasir
Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah
tahu).”

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si
kakek
berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon
pisang,
tidak jauh dari Nissan Serena milikku. Perlahan di angkat dari sandaran,
kemudian
dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.

Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke
arah
berlawanan dalam pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol,
sanggup
membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.
Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan
oleh si
kakek.
Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri
dengan
mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para
pensiunan
pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai
Manajer
perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi.
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup
membeli
seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya
Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali
Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus

Tapi apa yang aku pikirkan?
Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang
harganya
tidak lebih dari service rutin mobil Nissan Serena, kendaraanku di dunia
fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat
membelinya.
Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati
hambaMu yang
tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu.

 
Leave a comment

Posted by on April 18, 2011 in Pertajam Mata Hati

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: